I LOVE SURABAYA

January 24, 2017




Satu kalimat untuk kota yang aku tinggali saat ini. Sebenarnya aku bukan warga asli kota surabaya, statusku di sini hanyalah seorang pendatang atau lebih tepatnya seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di surabaya. Tetapi meskipun aku seorang pendatang, rasanya aku sudah jatuh cinta dengan kota ini, ya “i love you surabaya”.
Kota ini menyimpan begitu banyak sejarah masa kolonial belanda. Di jalan jembatan merah tepatnya di depan gedung tua internatio adalah saksi bisu tewasnya jendaral besar inggris yaitu a.w.s mallaby. Hotel yamato yang dulunya bernama hotel orange merupakan tempat terjadinya perobekan bendera belanda menjadi sang saka merah-putih yang sekarang sudah berganti nama menjadi hotel majapahit. Pertempuran di surabaya adalah awal terjadinya perlawanan-perlawanan di berbagai kota di indonesia terhadap belanda. Pidato bung Tomo yang isinya merdeka atau mati telah menguatkan hati warga kota surabaya untuk tidak takut membela kedaulatan indonesia walaupun pada saat itu pemerintah indonesia sudah lepas tangan akan nasib kota surabaya. Selama 21 hari kota surabaya di bombardir oleh pasukan inggris lewat serangan udara hingga akhirnya seluruh kota menjadi hancur. Banyak sekali warga sipil yang menjadi korban hingga dunia internasional mengutuk tentara inggris atas kejadian di surabaya. Tetapi surabaya tetap tidak gentar sampai titik darah penghabisan. Itulah mengapa surabaya dijuluki kota pahlawan.
Kota ini sudah ditakdirkan menjadi kota besar. Jika kau ingin merasakan kota surabaya tempo dulu datanglah ke kawasan jembatan merah, kembang jepun, jalan gula, dan kawasan religi ampel. Dari tempat-tempat itulah perdagangan di surabaya dimulai. dengan pusat kota di jalan tunjungan dan gedung siola yang mempunyai ceritanya sendiri. Konon pintu air jagir dibagun oleh belanda untuk mengatasi terjadinya banjir, dikarenakan daratan kota surabaya sedikit lebih rendah dari daerah pantai. Jalan Raya Darmo yang membentang hingga wonokromo merupakan pintu keluar dan menuju kota surabaya.
Sekitar tahun 1930 an, kakek ku melanjutkan study sekolah menengah pertamanya di surabaya tepatnya di kawasan religi ampel jl.pegirian. kata beliau hanya ada 3 orang dari desaku yang melanjutkan sekolah keluar madura. Pada tahun 1980 an ibuku yang memiliki cita-cita untuk melanjutkan perguruan tinggi nya ke kota, melanjutkan perguruan tinggi nya di salah satu universitas islam di surabaya yaitu IAIN Sunan Ampel yang sekarang telah berganti nama menjadi UIN Sunan Ampel. Jaman dimana masih sedikit sekali orang yang melanjutkan kuliahnya di kota. Hanya anak dari keluarga mampu atau seseorang dengan tekad kuat yang akhirnya dapat melanjutkan kuliah di kota besar. Mungkin ibuku termasuk golongan yang ke dua.
Pada tahun 2013 aku melanjutkan studi S1 ku di surabaya, tepatnya di salah satu perguruan tinggi negeri yang terkenal akan teknologinya dan sering menjuarai kontes robot tingkat nasional. Ya aku melanjutkan kuliahku di “Politeknik Elektronika Negeri Surabaya” yang dulunya masih di bawah naungan ITS dan sekarang telah mandiri. ITS diresmikan oleh presiden Soekarno pada tahu 19.. . kebutuhan akan lulusan sarjana teknik membuat sekumpulan kelompok pelajar di surabaya membangun sebuah kampus teknologi yang nantinya setelah lulus para alumninya dapat membangun indonesia lebih maju.
Hidup di kota besar memang tidak seindah yang dibayangkan. Masih banyak orang yang hidupnya kekurangan. Gemerlapnya kota surabaya hanya dinikmati oleh orang-orang berduit. Apartment, hotel, mall, dan hunian modern hanya di nikmati oleh orang-rang kaya. Dunia menuntut kita bekerja keras untuk terus memperkaya kaum kapitalis. Sungguh kejamnya kehidupan kota besar.
Kembali lagi pada kehidupanku, 3.5 tahun disini berat rasanya jika setelah wisuda nanti aku meninggalkan kota ini dan semua kenangannya kemudian harus kembali lagi ke desa. Seperti halnya kakek dan ibu ku yang setelah menuntut ilmu di kota harus kembali dan mengabdi di desa. 

You Might Also Like

0 komentar